MY MENU

Kamis, 29 Agustus 2013

Jenggolo Pasti Bisa



Panjat Pinang yang kini kian menghilang, namun warga jenggolo mulai disukai warga dalam rangka Coblosan RT 02 dan Memperingati HUT RI tahun 2013 ....

Minggu, 16 September 2012

KARNAVAL 2012

Dengan semangat 1945, Warga Desa Jenggolo ikut memeriahkan acara GERAK JALAN dan KARNAVAL yang diadakan oleh panitia dari kecamatan jenu.Kepala desa pun ikut serta turun lapangan berpartisipasi dalam rangka HUT RI yang ke 67.





Jumat, 07 September 2012

Biografi sang pelopor



LESTARI adalah nama pemberian orang tuaQ, saya dilahirkan tepatnya di desa Jenggolo Kec. Jenu Kab. Tuban, pada tanggal 09 November 1986. Meski hidup serba pas - pasan, kami tak begitu kecewa, karena itu hanyalah Ujian . Tahun demi tahun sampai saya sekolah tinggat SD kelas 3 ternyata Allah berkehendak lain, Allah telah memanggil BapakQ dan setelah sepeninggalnya Beliau ( BapakQ ) aq diasuh oleh tetanggaQ yang dalam kehidupannya berkecukupan.Enam ( 6 ) tahun lamanya saya hidup serba kecukupan, disitulah saya dibesarkan serta dididik akhlah dll;
Setelah kelas 3 SMP saya memutuskan pulang kepangkuan ibuQ lagi.
Tahun berganti tahun akhirnya saya memtuskan ikut kegiatan pramuka demi kehidupan selanjutnya saya terus kerja, walau hanya melatih PRAMUKA, saya tidak malu dan tidak putus asa karena cacian serta hinaan yang menghadang. Namun Kuasa Ilahi Robby Syukur alhamdulillah saya Mulai mampu membeli SEPEDA MOTOR sendiri ( mohon maaf Saya tidak pamer lho ) ini hanya cerita pribadi saya siapa tahu temen2 seperjuangan juga bisa meneruskan bakatnya dan bisa mendapatkan yang diinginkannya.
Kini saya tinggal menikmati hasilnya, dan mohon do'a dari semua yang membuka Blogger ini supaya saya tidak sombong dan terus berjuang demi pendidikan khususnya dibidang Pramuka.
Semoga kita semua sukses.....
Amin .............

    Sekilas Tentang Raden Panji


    Cerita Panji ialah sebuah cerita yang berasal dari Jawa. Isinya adalah mengenai kepahlawanan dan cinta yang berpusat pada dua orang tokoh utamanya, yaitu Raden Inu Kertapati (atau Panji Asmara Bangun) dan Dewi Sekartaji (atau Galuh Candra Kirana). Cerita ini mempunyai banyak versi, dan telah menyebar di beberapa tempat di Nusantara (Jawa, Bali, Kalimantan) dan juga di negara-negara lain di Asia Tenggara (Malaysia, Thailand, Kamboja, Myanmar, Filipina).
    Beberapa cerita rakyat seperti "Keong Mas", "Ande-ande Lumut", dan "Golek Kencana" juga merupakan turunan dari cerita ini. Karena terdapat banyak cerita yang saling berbeda namun saling berhubungan, cerita-cerita dalam berbagai versi ini dimasukkan dalam satu kategori yang disebut "Daur Panji" atau "Siklus Panji".
    Cerita-cerita dalam Daur Panji banyak digunakan dalam berbagai pertunjukan tradisional. Di Jawa, Cerita Panji digunakan dalam pertunjukan Wayang Gedog. Di Bali (di mana cerita ini dikenal sebagai "Malat"), pertunjukan Arja juga memakai lakon ini. Kisah ini juga menjadi bagian tradisi dari Suku Banjar di Kalimantan Selatan meskipun kini mulai kurang dikenal oleh masyarakat. Di Thailand terdapat seni pertunjukan klasik yang disebut "Inao" (Bahasa Thai:อิเหนา) yang berasal dari nama "Inu"/"Ino". Begitu pula di Kamboja di mana lakon ini dikenal dengan nama "Eynao".



    Nama Pelakon (Tokoh) dalam Cerita Panji

    1. Raden Inu (atau Ino atau Hino) Kertapati / Panji Asmara Bangun / Kuda (atau Cekel) Wanengpati
    2. Dewi Sekar Taji / Galuh Candra Kirana
    3. Panji Semirang / Kuda Narawangsa (Dewi Sekartaji dalam penyamaran)
    4. Klana Sewandana / Klana Tunjung Seta
    5. Ragil Kuning / Dewi Onengan
    6. Gunung Sari
    7. Panji Sinom Pradapa
    8. Panji Brajanata
    9. Panji Kartala
    10. Panji Handaga
    11. Panji Kalang
    12. Klana Jayapuspita
    13. Lembu Amiluhur
    14. Lembu Amijaya
    15. Wirun
    16. Kilisuci
    17. Resi Gatayu
    18. Bremanakanda
    19. Srengginimpuna
    20. Jayalengkara
    21. Panji Kuda Laleyan
    22. Sri Makurung
    23. Kebo Kenanga
    24. Jaka Sumilir
    25. Jatipitutur
    26. Pituturjati
    27. Ujungkelang
    28. Tumenggung Pakencanan
    29. Kudanawarsa
    30. Jaksa Negara
    31. Jaya Kacemba
    32. Jaya Badra
    33. Jaya Singa
    34. Danureja
    35. Sindureja
    36. Klana Maesa Jlamprang
    37. Klana Setubanda
    38. Sarag
    39. Sinjanglaga
    40. Retna Cindaga
    41. Surya Wisesa

    Relief cerita Panji yang dapat diketahui secara pasti hanyalah terdapat pada beberapa candi saja dalam masa Majapahit. Seringkali orang menyatakan bahwa ciri utama tokoh Panji dalam penggambaran relief dan arca adalah jika ada figur pria yang digambarkan memakai topi tekes, topi mirip blangkon Jawa, tapi tanpa tonjolan di belakang kepala (lebih mirip dengan bIangkon gaya Solo/Surakarta). Badan bagian atas tokoh tersebut digambarkan tidak mengenakan pakaian, sedangkan bagian bawahnya digambarkan memakai kain yang dilipat-lipat hingga menutupi paha. Pada beberapa relief atau arca ada yang digambarkan membawa keris yang diselipkan di bagian belakang pinggang, atau ada juga yang digambarkan membawa senjata seperti tanduk kerbau (sebagaimana yang dipahatkan pada Kepurbakalaan (Kep.) XXII/C.Gajah Mungkur Penanggungan) (Bernet Kempers 1959:325-6).
    Jika berpegangan pada tolok ukur bahwa tokoh Panji selalu digambarkan bertopi tekes, maka akan banyak tokoh Panji yang dijumpai dalam relief-relief candi jawa Timur. Karena tokoh Sidapaksa suami Sri Tanjung yang dipahatkan di Candi Surawarna, dan Jabung akan dianggap sebagai tokoh Panji. Demikian Pula tokoh Sang Satyawan yang dipahatkan pada pendopo teras II Panataran dan dua figur pria dalam relief cerita Kunjarakarna di Candi Jago akan dapat dianggap sebagai tokoh Panji.
    Lalu bagaimana penggambaran relief tokoh Panji yang dikenal dalam cerita Panji? Stutterheim (1935) secara gemilang telah berhasil menjelaskan satu panel relief dari daerah Gambyok, Kediri yang nyata-nyata menggambarkan tokoh Panji beserta para pengiringnya. Pendapat Stutterheim tersebut didukung oleh para sarjana lainnya, seperti Poerbatjaraka (1968) dan Satyawati Suleiman (1978).
    Penggambaran relilef Panji Gambyok tersebut menurut Poerbatjaraka sesuai dengan salah satu episode kisah Panji Semirang, yaitu saat Panji bertemu dengan kekasihnya yang pertama, Martalangu, di dalam hutan (1968:408). Pada panil digambarkan adanya tokoh pria bertopi tekes yang sedang duduk di bagian depan kereta, tokoh itu tidak lain ialah Panji. Sementara tokoh yang duduk di hadapannya di atas tanah ialah Prasanta. Tokoh paling depan di antara empat orang yang berdiri ialah Pangeran Anom, di belakangnya ialah Brajanata, saudara Panji berlainan ibu. la digambarkan tinggi besar dengan rambutnya yang keriting tapi dibentuk seperti telces. Dua tokoh berikutnya adalah para kudeyan yaitu Punta dan Kertala. Dalam relief digambarkan bahwa keretanya belum dilengkapi kuda, karena sesuai dengan cerita bahwa mereka baru merencanakan akan membawa Martalangu ke kota malam itu. Sementara sikap kedinginan yang ditunjukkan oleh para tokoh adalah sesuai juga dengan cerita, yaitu mereka berada di luar saat malam yang dingin (Poerbatjaraka 1968:408).

    [sunting]

    Sebagai suatu karya sastra yang berkembang dalam masa Jawa Timur, kisah Panji telah cukup mendapat perhatian para ahli. Ada yang telah membicarakannya dari segi kesusasteraannya (Cohen Stuart 1853), dari segi kisah yang mandiri (Roorda 1869), atau diperbandingkan dengan berbagai macam cerita Panji yang telah dikenal (Poerbatjaraka 1968), serta dari berbagai segi yang lainnya lagi'.
    Menurut C.C.Berg(1928) masa penyebaran cerita Panji di Nusantara berkisar antara tahun 1277 M (Pamalayu) hingga ± 1400 M. Ditambahkannya bahwa tentunya telah ada cerita Panji dalam Bahasa Jawa Kuno dalam masa sebelumnya, kemudian cerita tersebut disalin dalam bahasa Jawa Tengahan dan Bahasa Melayu. Berg (1930) selanjutnya berpendapat bahwa cerita Panji mungkin telah populer di kalangan istana raja-raja Jawa Timur, namun terdesak oleh derasnya pengaruh Hinduisme yang datang kemudian. Dalam masa selanjutnya cerita tersebut dapat berkembang dengan bebas dalam lingkungan istana-istana Bali'.
    R.M.Ng.Poerbatjaraka membantah pendapat Berg tersebut, berdasarkan alasan bahwa cerita Panji merupakan suatu bentuk revolusi kesusastraan terhadap tradisi lama (India). Berdasarkan relief tokoh Panji dan para pengiringnya yang diketemukan di daerah Gambyok, Kediri, Poerbatjaraka juga menyetujui pendapat W.F.Stutterheim yang menyatakan bahwa relief tersebut dibuat sekitar tahun 1400 M. Akhirnya Poerbatjaraka menyimpulkan bahwa mula timbulnya cerita Panji terjadi dalam zaman keemasan Majapahit (atau dalam masa akhir kejayaan kerajaan tersebut) dan ditulis dalam Bahasa Jawa Tengahan (1968:408--9). Penyebarannya ke luar Jawa terjadi dalam masa yang lebih kemudian lagi dengan cara penuturan lisan.

    Tempat Wisata

    Kecamatan Jenu mempunyai banyak tempat wisata yang menjadi aset pariwisata di Kabupaten Tuban,
    seperti Makam Raden Panji (Jenggolo),Terminal Wisata (Sugihwaras)Mangrove Centre, Makam Syeh Achmad Cholil (Rawasan)Makam Syeh Subakir (Tasikharjo), Makam Syeh Syamsuddin ( Jenu / Masjid Astana ) dll.